Thursday, May 7, 2015

PANTAI BATU KALANG




Pantai Batu Kalang Tarusan di Kecamatan Koto XI Tarusan, berpotensi menjadi objek wisata andalan. Hal ini seperti dikatakan Kepala Dinas Pariwisata Pemuda, Olahraga dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Selatan, Gunawan.
 
Keindahannya setara dengan pantai-pantai di Pulau Bali, bahkan bisa lebih apabila dikelola dengan baik dan sarana serta prasarananya memadai, katanya di Painan, Rabu (8/4).
 
Pantai Batu Kalang Tarusan bakal dikembangkan agar menjadi andalan wisata bahari Pesisir Selatan.
 
Saat ini Pantai Batu Kalang Tarusan sudah mulai ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun nasional meski pengelolaannya masih sangat sederhana oleh sebagian warga.
 
Ia mengatakan, setiap hari pengunjung rata-rata sebanyak dua ratus hingga 250 orang. Berbeda dengan hari-hari libur akhir pekan, ribuan orang, bahkan pada liburan Hari Raya Idul Fitri mencapai belasan ribu orang.
 
"Ribuan pengunjung yang memadati Objek Wisata Pantai Batu Kalang Tarusan setiap akhir pekan menjadi bukti bahwa objek wisata tersebut makin dikenal banyak orang, tidak saja warga lokal tetapi tingkat nasional, " katanya.
 
Karena ramainya kunjungan sehingga objek tersebut sudah menjadi tujuan wisata alternatif bagi para wisatawan ke kabupaten itu disamping Pantai Carocok Painan dan Kawasan Mandeh di Kecamatan Koto XI Tarusan.
 
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Pesisir Selatan Martawijaya mengatakan, Pantai Batu Kalang Tarusan sangat indah.
 
Bila dikelola dengan baik serta ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai maka objek wisata tersebut dapat menjadi objek wisata alternatif selain Pantai Carocok Painan yang sudah terkenal dan membludak.
 
Akses transportasi ke daerah itu lancar melalui jalur darat dan dekat dari jalan nasional lintas barat Sumatera. Maka itu selain keindahannya, Pantai Batu Kalang Tarusan sangat mudah dijangkau dengan menaiki moda transportasi darat.
 

Dengan menggunakan sepada motor, ataupun kendaraan roda empat, jarak pantai tersebut dari Kota Padang sekitar 56 kilometer atau seitar satu jam dari Bandar Udara Internasional Minangkabau (BIM). Pantai itu berada di sisi kawasan Wisata Mandeh.


sumber dari harianterbit.com
»»  Read more...

Sunday, May 3, 2015

objek wisata KAMPUNG BALI DI GARUT

Wah! Ada Kampung Bali di Garut



Bagi Anda yang memang belum pernah mengunjungi Bali atau ingin bernostalgia melihat bagaimana kondisi perkampungan di Pulau Dewata, maka datanglah ke Kampung Bali yang berada di Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu, Garut, Jawa Barat.
Wahana wisata tersebut didirikan oleh KRAT. Ki. H. Derajat Hadiningrat karena kecintaannya terhadap budaya nusantara.
Kampung Bali tersebut sebenarnya diberi nama Pasulukan Loka Gandasasmita. Hanya, karena suasana kampung mirip dengan perkampungan di Bali, maka wahana wisata tersebut disebut Kampung Bali.
"Mungkin karena bentuk bangunan sangat mirip dengan bangunan di Bali, maka tempat ini disebut Kampung Bali," ujar salah seorang pengelola Wisata Budaya Pasulukan Loka Gandasasmita, Dodi (40), Sabtu, 28 Maret 2015 kepada wartawan.
Dodi menjelaskan, berkunjung ke wahana keraton dan wisata budaya Pasulukan Loka Gandasasmita akan menambah wawasan, terutama berkaitan dengan sejarah.
Pasalnya, di Kampung Bali terdapat beberapa bangunan, seperti Keraton Pendhapi Kyai Ageng Adhiyaksa, Pendhapi Kaputren, Pendhapi Kyai Ageng Kismantoro, Pendhapi Kyai Agung Kanjeng Kyai Widoro Kandang, Pendhapi Sang Prabu Kencana Wulung, Pendhapi Kepatihan, dan Graha Liman Kencana.
"Di sini terdapat bangunan kraton yang bisa dikunjungi," ujarnya.
Selain itu, terdapat gedung yang berisi koleksi ribuan keris dan benda pusaka lainnya seperti Keris Ken Dedes, Kujang Prabu Siliwangi, dan senjata yang digenggam Patih Gadjah Mada saat mengucapkan Sumpah Palapa.
Di Kampug Bali juga terdapat beberapa senjata pusaka milik Kerajaan Malaysia dan ribuan senjata lainnya, serta Al Qur’an yang dibuat oleh tulisan tangan Sunan Gunung Djati.
"Bangunan-bangunan yang ada di kampung ini dikirim langsung dari Keraton Surakarta," katanya menerangkan.
Selain bangunan dan benda bersejarah, juga terdapat sarana bermain anak, tempat program edukasi, dan wisata cagar alam tambulapot (tanaman bunga dalam pot). Suasana perkampungan begitu terasa, udaranya sejuk dan penduduk sekitar yang penuh kehangatan.
"Harga tiket masuk di sini sangat terjangkau, jadi tidak usah jauh-jauh pergi ke Bali, ke sini saja di Kampung Bali."

sumber dari viva.co.id
»»  Read more...

objek wisata CANDI CANGKUANG DI GARUT

Eksotisme Candi Hindu, di Tepi Danau Cangkuang


Candi Cangkuang merupakan satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat yang berhasil dipugar hingga saat ini. Candi ini terletak di Kampung Pulo, Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut.

Lokasi candi ini berada pada ketinggian 700 meter di atas permukaan air laut. Untuk menuju candi ini, selama dalam perjalanan, Adna akan melewati keindahan hamparan sawah yang  menghijau dan empat gunung besar di Jawa Barat.

Gunung tersebut yaitu Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi, dan Gunung Guntur. Pemerintah daerah Kabupaten Garut menjadikan daerah ini sebagai obyek wisata budaya dan wisata alam. 

Menurut Indonesia Travel, Candi Cangkuang merupakan candi peninggalan Hindu abad ke-8 yang direkonstruksi tahun 1978. Pada bangunan aslinya hanya tersisa sekitar 40 persen dari reruntuhan saat ditemukan, dan selebihnya candi ini dibuat dari adukan semen, batu koral, pasir dan besi. 

Candi Cangkuang pertama kali ditemukan tahun 1966 oleh tim peneliti berdasarkan laporan tulisan Vorderman dalam buku “Notulen Bataviaasch Genootschap” tahun 1893. Buku itu menyebutkan adanya sebuah arca yang rusak serta makam leluhur Arief Muhammad di Leles.

Candi Cangkuang berdiri di daratan mirip pulau kecil di tengah danau bernama Situ Cangkuang, jadi Anda perlu menggunakan rakit untuk mencapainya. Di dataran ini juga Anda akan melihat pemukiman adat Kampung Pulo dan makam Embah Arief Muhammad.

Awalnya ada seorang lelulur Kampung Pulo utusan Kerajaan Mataram bernama Embah Dalem Arief Muhammad. Beliau diutus untuk menyerang VOC di Batavia, namun karena peyerangan gagal, ia pun malu dan takut untuk melapor ke Mataram. Maka ia dan pengikutnya memilih berdiam di Desa Cangkuang dan menyebarkan agama Islam di sini.

Nama Candi Cangkuang sendiri diambil dari nama desa sekaligus adalah nama tanaman Pandanus furcatus yang banyak terdapat di sekitarnya. Daun tanaman cangkuang sering dimanfaatkan penduduknya untuk membuat tudung, tikar atau pembungkus gula aren.

Awalnya penemuan situs ini hanyalah berupa batu fragmen dari sebuah candi dan makam kuno serta arca Siwa yang telah rusak. Arca ini wajahnya datar, bagian tangan hingga kedua pergelangannya telah hilang.

Posisi arca bersila di atas padmasana ganda dengan kaki kiri menyilang datar, alasnya menghadap ke sebelah dalam paha kanan. Kaki kanan menghadap ke bawah beralaskan lapik. Di depan kaki kiri terdapat kepala sapi  yang telinganya mengarah ke depan. Dengan kepala nandi ini para ahli menganggap bahwa ini adalah arca Siwa. Kedua tangannya menengadah di atas paha.

Pada tubuhnya terdapat penghias perut, penghias dada dan penghias telinga. Selain arca ditemukan juga peninggalan pra sejarah berupa alat dari batu obsidian, pecahan-pecahan tembikar dari zaman Neolithicum dan batu-batu besar dari kebudayaan Megalitikum.

Saat di sini pengunjung dapat menaiki rakit dan berpindah dari tempat satu ke tempat lainnya. Danau kecil ini dihiasi bunga teratai dan eceng gondok. Berfotolah di sini karena pemandangan alamnya sungguh luar biasa seakan kembali ke zaman dahulu.


sumber dari viva.co.id
»»  Read more...

Thursday, December 11, 2014

Wisata gunung salak

Hampir setiap hari libur, sebisa mungkin kalau pas lagi nggak ada kerjaan sudah pasti saya sudah ngacir mencari tempat tempat baru yang belum pernah saya datangi. Nah ternyata nggak jauh dari tempat saya tinggal, konon kata orang ada curug atau air terjun yang cukup bagus di daerah Bogor.

Tempatnya cukup mudah dari akses jalan tol jagorawi, keluar sentul selatan, kemudian keluar ambil kanan, masuk tol lingkar luar Bogor sampai ujung (keluar Kedung Halang) ambil arah Darmaga – terus ambil arah Luwiliang, sampai pertigaan Cibatok belok kiri ke arah Gunung Bunder

Tempat curug ini berada di kawasan Taman Wisata Gunung Salak Endah.

Kalau kita masuk dari Cibatok,  dari gerbang Gunung Sari. Berturut turut akan melewati
1. Pemandian Air Panas.
2. Curug Cigamea
3. Curug Gunung Seribu
4. Curug Ngumpet II
5. Curug Pangeran
6. Curug Ngumpet I
7. Kawah Ratu
8. Curug Cihurang
9. Bumi Perkemahan

peta wisata gunung salak endah

Saya hanya sempat mengunjungi Curug Cigamea, Curug Ngumpet II, dan Curug Seribu yang katanya paling besar supaya menghemat waktu jadi tidak mengunjungi semua curug.

Pintu gerbang masuk kawasan pertama harus bayar sekitar 20ribu untuk masuk mobil plus 2 orang. Padahal dari tiketnya nggak sampai 15 ribu. Males lah nanya2 yang beginian, lanjut saja ..
Curug Cigamea adalah tempat yang pertama kali saya kunjung, disini juga cukup kaget dengan biaya parkir mobil 10ribu mahal juga ya. saya tawar 5ribu tapi tetap nggak mau, dengan alasan parkirnya tidak pake jam. Ya buat saya oke lah, karena saya nggak mau mereka menghancurkan mood hariku, ya sudahlah lanjut lagiiee..

Akhirnya saya menikmati awal perjalanan ke Curug Cigamea. Ternyata di ada gerbangnya lagi tetapi bayarnya sesuai tiket. 1 orang 6ribu rupiah.

Untuk menuju curug Cigamea jalan yang harus ditempuh dengan kontur yang cukup curam ke bawah, tapi karena jalannya sudah bagus dan ada rail untuk pegangan jadinya kita merasa aman. Sebagai permulaan cukup lumayan membuat badan saya bisa bercucuran keringat tapi udara yang agak dingin jadi badan segar rasanya.

Curug Cigamea cukup bagus meskipun nggak terlalu tinggi tapi debit airnya cukup besar, banyak juga yang menikmati segarnya air dengan berenang.

Setelah puas, saya harus buru buru karena masih banyak tempat yang harus didatangi.

Selanjutnya sesuai urutan harusnya lanjut ke curug seribu, tapi karena ini menurut orang curug yang paling bagus, paling sulit dan paling besar, jadi saya simpen dulu.. save the best for last ..
Lanjut lagi ke Curug Ngumpet II, dari pintu gerbang ke curug ngumpet nggak terlalu jauh lebih cenderung dekat nggak seperti ke curug Cigamea. Puas menikmati lanjut lagi ke curug pangeran.

Perjalanan ke curug Pangeran memang agak sedikit memaksakan, karena ternyata untuk masuk jalanannya berbatu dan buat mobil kecil yang saya bawa ketika sampai di tengah jalan nggak mampu untuk meneruskan perjalanan, bannya muter di tempat. Jadilah membatalkan rencana ke Curug Pangeran, karena mobil nggak bisa muter balik jadi turun dengan cara mundur sampai ke bawah di jalan utama. Buat yang bawa mobil kecil saya sarankan titip di tempat penduduk di bawah saja.

Karena waktu sudah tengah hari, kita putuskan untuk batal ke Curug Pangeran, langsung ke Curug Seribu saja.

Curug Seribu sedikit lebih landai meskipun sama berbatu batu juga, jalanan agak sempit. Karena belum tau dan nggak mau resiko mobil saya titipkan di bawah saja, untung ada orang baik yang kasih tempat buat parkir. Karena jalanan juga sempit di Curug Seribu.

Jalan kaki juga nggak terlalu jauh sekitar 15 menit sudah sampai gerbang masuk.

Nah yang jadi masalah adalah dari gerbangnya ke curug Seribunya, agak jauh dan lumayan extrim medannya. Ada sekitar satu jam untuk menuju Curug yang tergantung stamina juga. Yang penting hati hati karena musim hujan jalurnya benar2 tanah dan batu jadi cukup licin.

Tapi lelah, napas ngos ngosan semuanya terbayar dengan pemandangan di curug Seribu yang indah.

Di Curug seribu ada 2 air terjun, satu yang besar, satu lagi yang tinggi. Air nya beniiinggg banget. Saya buka bekal makan siang disini dan memang sudah saya rencanakan sebelum berangkat. Asik banget, makan sambil kaki di rendam di air dingin dengan pemandangan yang jarang dilihat, tak bernilai rasanya ..

»»  Read more...

Tuesday, April 15, 2014

Wisata Curug Cikondang Lokasi Di Cianjur..


Minggu,2 Februari 2014 dengan mengorbankan waktu less Bhs ingris ku..kami (Suci+Adi, Tio &Aku),,setelah lama menanti pasangan culun Suci+Adi, kami pun bertolak menuju cianjur.
Memasuki Cimahi Panas, macet, gerah mewarnai sepanjang sampai Cibeber. Terlebih di pusatnya macet, “Padalarang” mulai dari truk barang, truk gandeng, truk sampah,bus2 segede gaban, plus puluhan mobil pribadi tak ketinggalan ratusan sepeda motor tumplek di jalan nan sempit padalarang baik yang menuju Bandung or Cianjur di kedua jalur padat merayap.Tak sampai di sini derita paru2 kami yang menghisap ribuan kubik karbon monoksida, selepas dari jalur Tagok Jalanan lumayan lancar tapi sayang disayang ,
tak hanya pemandangan yang selalu buat aku takjub, tapi miris menyayat kalbu lihat asap mengepul hitam yang keluar dr cerobang pembakaran batu kapur di sepanjang jalan Cipatat.

Beruntunglah di daerah Rajamandala, banyak tenda2 yang menjajahkan “EsCincau”...SEGERRRRRRRR...membasuhi tengorakan yang mulai kering kerontang, Es cincau dengan rasa sederhana sekali tapi “Ampuh” coz santan dan gula merahnya gak berlebih.....sembari menikmati es cincau, aku berjanji, klo nanti lewat sini aku kudu, wajib mampir di kios2 ini. Puas dengan Es cincau kami lanjutkan lagi perjalanan dengan kecepatan 60-80km/jam, spot jantung pasti terlebih bila Tio Menyusul para Truk & Bis segede Gaban...hanya bisa pasrah dan berdoa tiada henti agar selamat smp tujuan. Sebelum memasuki kota Cianjur kami pun belok kiri menuju Cibeber, mulai dari sini kami sll bertanya, maklum takut nyasar, tersasa jauh...dan gak sampai2 terlebih perut mulai keroncongan, kami pun memutuskan makan sebelum melanjuti perjalanan.



Akhirnya bertemu juga plang “ SITUS MEGALIT GN. PADANG 16km”,,lega rasanya...jalan yang diambil benar, segera kami belok kanan dan mulai memasuki jalan berkerikil dan berdanau..yeeeee...off road di mulai...ternyata jalan2 menuju curug di jawa barat itu sama kawan, ga ke curug Citambur, Curug Malela...akses jalannya “Hancur” mungkin ini namamnya berakit-rakit ke hulu bersenang-senang kemudian. off road bertemankan kebun teh, sawah dan rumah penduduk itu mengasikan,,,sampailah ke pakiran “Curug Cikondang”..ternyata uda banyak motor...dan mobil, bahkan mobil “Global TV” pun ada......hikssss “ini bukan fafvorit ku”..aku malas pergi ke tempat yang sudah ramai..sebersit kecewa di hati..tak mau larut dalam kecewa kami segera menuju pos jaga dan membayar Rp. 3000,-/orang. Gemuruh air terjun sudah mulai terdengar dan tak lama kami pun samapi di puncaknya air terjun, “KOK Biasa dn Jelek” begitu komentar Suci...saat melihat dari atas...aku sempet ciut juga...sembari bilang ‘belum Ci..ini baru awal, yuk jalan ke bawah” mencoba menghibur. Dan..ternyata semua keraguan dan prasangka kami itu SALAH BESAR.....WOW..AMAZING..MEGA...Persis sama apa yang ada di pic nya mas Rahmat....Luar biasa Indah...Kembarannya Curug Malela....

Curug Cikondang dengan ketingian 50m dan debit air yang deras bersih pula Buat semakin kecil dan tak berarti diri ini di kala berdiri di bawanya...Terletak di tengah2 kebun Teh, Tak ada kata kata yang bisa terucap...Sungguh Maha Besar, Maha Cantik, Maha Segalanya..pencipta Alam Semesta. Miris dan Nyessssssss saat lihat sampah di pinggiran berserakan “ARRGGGGG” ditambah batu2 di curug di coret2 oleh tangan2 jahil...hmmmmmmm....kenapa sich..mesti membuang sampah sembarangan,,,,apa susah nya membawa pulang kembali..pengen nangis rasanya lihat alam yang begitu dasyat rusak oleh ulah manusia yang ga punya rasa memiliki dan menjaga.

Tak terasa matahari mulai condong ke barat, kami pun memutuskan pulang ke Bandung tanpa meneruskan perjalanan menuju situs Megalit Gn.Padang, yang katanya 1 jam lg dari Curug Cikodang...Kecewa, penasaran, sedih..pastiiii...tapi apa daya suara ku Cuma satu..smg masih di beri kesempatan untuk balik jelajah situs megalit gn padang...Harapan Terbesar sih,..semoga..kedepanya..di sediakan tong sampah dan petugas kebersihan yang ready..seperti di Bali...sayang bila Kemegahan. Keindahan Curug Cikondang tercemari oleh noda2 sampah dimana-mana....dan pengunjung yang sadar & cinta lingkungan...
»»  Read more...